Faktor-faktor metode dalam belajar


 Metode mengajar yang dipakai oleh guru sangat mempengaruhi metode belajar yang dipakai oleh si pelajar, dengan perkataan lain , metode yang dipakai oleh guru menimbulkan perbedaan yang berarti bagi proses belajar.(Wasty Soemanto, 2006:115). Adapun faktor-faktof metode belajar menyangkut hal-hal sebagai berikut:

1.      Kegiatan berlatih atau praktek

Seperti halnya dalam bidang medis, kegiatan berlatih dapat diberikan dalam dosis besar ataupun dosis kecil. Berlatih dapat diberikan secara maraton (non stop atau secara terdistribusi dengan selingan waktu-waktu istirahat) . Latihan yang dilakukan secara maraton dapat melelahkan dan membosankan, sedang latihan yang terdistribusi menjamin terpeliharanya stamina dan kegairahan belajar.

Jam pelajaran atau latihan yang terlalu panjang adalah kurang efektif. Semakin pendek-pendek distribusi waktu untuk bekerja atau berlatih, semakin efektiflah pekerjaan atau latihan itu. Latihan atau kerja memerlukan waktu istirahat. Lamanya istirahat tergantung pada jenis tugas atau keterampilan yang dipelajari, atau pada lamanya periode waktu pelaksanaan seluruh kegiatan. 

Kegiatan berlatih secara maraton baru dimungkinkan, apabila tugas mudah dikenal dan mudah untuk dilakukan, materiil pernah dipelajari sebelumnya, kegiatan memerlukan pemanasan terus-menerus.

2.      Overlearning dan Drill

Untuk kegiatan yang bersifat abstrak misalnya menghafal atau mengigat, maka overlearning sangat diperlujan. Overlearning dilakukan dilakukan untuk mengurangi kelupaan dalam mengigat keterampilan-keterampilan yang pernah dipelajari tetapi dalam sementara waktu tidak dipraktekkan. Overlearning yang terlalu lama menjadi kurang efektif bagi kegiatan praktek.

Apabila overlearning berlaku bagi latihan keterampilan motorik seperti main piano atau menjahid, maka “Drill” berlaku bagi kegiatan berlatih abstraksi misalnya berhitung. Mekanisme drill adalah tidak berbeda dengan “overlaerning” baik drill maupun overlearning berguna untuk mementapkan reaksi dalam belajar.

3.      Resitasi selama belajar

Kombinasi kegiatan membaca dengan resitasi sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca itu sendiri, maupun untuk menghafalkan bahan pelajaran. Dalam praktek, setelah diadakan kegiatan membaca atau penyajian materi, kemudian si pelajr berusaha untuk menghafalnya tanpa melihat bacaanya.

 Jika ia telah menguasai suatu bagian, dapat melanjudkan kebagian selanjudnya dan seterusnya. Resitasi lebih cocok untuk diterapkan pada belajar membaca atau belajar menghafal.

4.      Pengenalan tentang hasil-hasil belajar

Dalam proses belajar, individu sering mengabaikan tentang perkembangan hasil  belajar selama dalam belajaranya. Penelitian menunjukkan, bahwa pengenalan seseorang terhadap hasil atau kemajuan belajarnya adalah penting, karena dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai,  seseorang akan lebih berusaha meningkatkan hasil belajar selanjudnya.

5.      Belajar dengan keseluruhan dan degan bagian-bagian

Menurut beberapa penelitian, perbedaan efektifitas antara belajar dengan keseluruhan dengan belajar degan bagian-bagian adalah belum ditemukan. Haya apabila kedua prosedur itu dipakai secara simultan, ternyata belajar mulai dari keseluruhan kebagian-bagian adalah lebih menguntungkan dari pada beljar mulai dari bagian-bagian. 

Hal ini dapat dimaklumi, karena dengan mulai dari keseluruhan, individu menemukan set yang tepat untuk belajar. Kelemahan dari metode keseluruhan adalah membutuhkan banyak waktu daan pemikiran sebelum belajar yang sesunguhnya berlangsung.

6.      Penggunaan modalitas indra

Modalitas indra yang dipakai oleh masing-masing individu dalam belajar tidak sama. Sehubungan dengan itu, ada tiga impresi yang penting dalam belajar, yaitu: oral, visual, kinistetik. Ada orang yang lebih berhasil belajarnya dengan menekankan impresi oral. 

Dalam belajar, ia perlu membaca atau mengucapkan materi pelajaran dengan nyaring atau mendengarkan bacaan atau ucapan orang lain. Ada yang belajar menekankan pada impresi visual, di mana dalam belajarnya ia harus lebih banyak menggunakan fungsi  indra penglihatan. 

Begitu pula ada yang belajar dengan menekankan diri pada impresi kinistetik dengan banyak menggunakan fungsi motorik. Disamping itu, adapula yang belajar dengan mengunakan kombinasi impresi indra.

7.      Bimbingan dalam belajar

Bimbingan yang terlalu banyak diberikan oleh guru atau orang lain cenderung membuat si pelajar menjadi tergantung. Bimbingn dapat diberikan dalam batas-batas yang diperlukan oleh individu. Hal yang penting yaitu perlunya pemberian modal kecakapan pada individu sehingga yang bersangkutan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan dengan sedikit saja bantuan dari pihak lain.


8.      Kondisi-kondisi insentif

Insentif adalah berbeda dengan motivasi. Motivasi berhubungan dengan penumbuhan kondisi internal berupa motif-motif yang merupakan dorongan internal yang menyebabkan individu berusaha mencapai tujuan tertentu.

Insentif adalah objek atau situasi eksternal yang dapat memenuhi motif indifidu. Insentif-insentif  adalah bukan tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan. Insentif-insentif dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu:
Ø  Insentif intrinsik, yaitu situasi yang mempunyai hubungan fungsional dengan tugas dan tujuan.
Ø  Insentif ekstrinsik yaitu opjek atau situasi yang tidak mempunyai hubungan fungsional dengan tugas.

Situasi yang menimbulkan insentif intrinsik misalnya pengenalan tentang hasil atau kemajuan belajar, persaingan sehat, dan koperasi. Situasi yang menjadi insentif ekstrinsik misalnya ganjaran, hukuman, perlakuan kasar, kekejaman dan ancaman yang membuat takut. Dari dua insentif  itu, yang lebih memajukan belajar individu adalah insentif yang intrinsik. Insentif ini akan menentukan tingkat motivasi belajar individu di masa-masa mendatang.


Oleh karena “drives” dan motif-motif individu adalah hasil belajar, maka dalam hal pemberian insentif untuk pemenuhan jenis motif yang diharapkan hendaknya dipertimbangkan masak-masak.   

0 Response to " Faktor-faktor metode dalam belajar"

Post a Comment